Pope's Mitre Global Katolik

Senin, 28 April 2014

Memakai Nama Katolik

DOKPEN-KWI, 13 Mei 2002
No :01/DOKPEN/05/2002
Hal: Memakai nama "Katolik"
MEMAKAI NAMA "KATOLIK"

1. Pantas disyukuri bersama, bahwa akhir-akhir ini semakin nampak adanya orang-orang katolik yang tergerak oleh ajaran-ajaran Gereja Katolik.
2. Lebih dari pada itu, tidak hanya sendiri-sendiri sebagai individu, tetapi juga secara bersama-sama mereka melandaskan kegiatannya itu berdasarkan ajaran Gereja yang mutakhir, termasuk ajaran-ajaran sosial Gereja. Dengan demikian, hal itu dapat dipandang sebagai perwujudan cita-cita Gereja yang percaya bahwa Gereja mendapat tugas untuk melaksanakan nilai-nilai luhur bagi keselamatan manusia.
3. Khususnya di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia sangat mendukung inisitatif kaum awam tersebut. Hal itu tentu merupakan ambil bagian mereka dalam usaha mengatasi permasalahan bangsa berdasarkan nilai-nilai dan ajaran Gereja. Kerjasama melalui berbagai cara memang menjadi harapan orang-orang beriman di negeri yang sedang menanggung berbagai macam krisis ini.
4. Tetapi, mendasarkan kegiatan bersama berdasarkan ajaran Gereja Katolik tidak serta merta membuat orang-orang katolik tersebut begitu saja dapat memakai nama "katolik" bagi kebersamaannya itu.
5. Selama ini nama "katolik" telah menjadi nama diri sebuah komunitas beragama yang kehadirannya meliputi hampir seluruh dunia. Maka membuat nama itu menjadi nama diri sebuah kebersamaan, entah itu paguyuban atau organisasi atau partai di sebuah tempat tertentu adalah sebuah tindakan yang mengena pada nama diri Gereja Katolik, yang pada hakekat dan kenyataannya adalah sebuah komunitas keagamaan dan bersifat universal.
6. Berhubung nama "katolik" itu selama ini telah menjadi nama diri Gereja Katolik Roma, maka nama tersebut tidak hanya menyangkut Gereja Katolik yang ada di sebuah wilayah tertentu saja. Karena itu, penggunaan nama tersebut diatur oleh Hukum Gereja.
7. Menurut Hukum Gereja yang berlaku sejak tahun 1983, pada pokoknya, penggunaan nama itu hanya boleh dilakukan dengan persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang seperti dinyatakan pada kedua pasal ini:
Kanon 300:
Janganlah satu perserikatan pun memakai nama "katolik" tanpa persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang, menurut norma kanon 312
.
Kanon 312:
# 1 Otoritas yang berwenang untuk mendirikan perserikatan-perserikatan publik ialah:
1. Tahta Suci untuk perserikatan-perserikatan universal dan internasional.
2. Konferensi Waligereja di wilayah masing-masing, untuk perserikatan nasional, yakni yang berdasarkan pendiriannya diperuntukkan bagi kegiatan yang meliputi seluruh negara.
3. Uskup diosesan di wilayah masing-masing, tetapi Administrator diosesan tidak, untuk perserikatan-perserikatan diosesan, terkecuali perserikatan-perserikatan yang pendiriannya menurut priviligi apostolik direservasi bagi orang lain.
# 2 Untuk mendirikan dengan sah perserikatan atau seksi perserikatan di keuskupan, meskipun berdasarkan previligi apostolik, dituntut persetujuan tertulis Uskup diosesan; tetapi persetujuan yang diberikan untuk mendirikan rumah tarekat religius berlaku juga untuk mendirikan perserikatan yang khas untuk tarekat itu di rumah itu atau di gerejanya.
8. Jadi, sehubungan dengan penggunaan nama "katolik" diperlukan dua hal yang hakiki, yaitu persetujuan dari otoritas gerejawi yang berwenang (Kanon 300) dan persetujuan itu tertulis (Kanon312).
9. Selama ini, para Waligereja yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tidak pernah menyatakan persetujuannya kepada siapa pun juga yang berkehendak untuk memakai nama "katolik" pada organisasi, paguyuban, perserikatan, partai dan sebagainya, yang sedang dibentuknya.
Hendaknya yang bersangkutan dan berkepentingan maklum adanya.


Jakarta, 26 April 2002
F.X. Sumantara Siswoyo, Pr
Bagian Dokumentasi dan Penerangan KWI

From: http://www.ekaristi.org/dokumen/dokumen.php?subaction=showfull&id=1140738237&archive=&start_from=&ucat=1&

Kanon Alkitab

Kanon (Yunani, kanon, norma, ukuran atau tolok ukur, standar)

Ingat, alkitab yang kita genggam dalam tangan kita memiliki sampul awal dan akhir untuk melindungi isi halaman-halamannya. Kita patut bertanya, apakah Tuhan memberikan/menurunkan alkitab dalam bentuk atau format buku seperti sekarang? Yoh20:30 ; Yoh21:25 ; Mat28:19-20. Yesus memerintahkan rasul untuk mewartakan, mengajar dan membaptis dunia. Yoh21:25 Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. Apakah Tuhan memberikan/ menurunkan alkitab dalam bentuk seperti apa yang kita miliki sekarang? Tidak! Kis20:35 ; nbsp ; 2Tes2:15 ; 2Tes3:6

Yoh 20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

Darimana dapat manusia memastikan bahwa isi diantara kedua sampul tsb adalah benar-benar Firman Tuhan? Siapakah yang dapat menjamin kepastian, keaslian atau keotentikan isi diantara kedua sampul pelindung alkitab?1Tim3:15 ; Yoh21:25

Lihat buku Petualangan Harry Potter, diantara kedua sampul terdapat tulisan yg mengisahkan petualangan Harry dan kawan-kawannya yang ditulis oleh JK Rowling. Kita mengakui karya tsb dan JK Rowling sebagai pengarang atau induknya tanpa argumentasi. Kita semua mengerti dan menerima isi dan karya JK Rowling tsb secara pasti. Kembali ke alkitab, siapa yang dapat berkata secara pasti isinya tidak salah, tidak kurang, tidak lebih dan adalah benar dan pasti Firman Allah. Bukti apakah yang kita dapatkan dari alkitab itu sendiri? Apakah terdapat tulisan pada halaman muka yang menjelaskan atau mengotentikan isi alkitab?

"Ini adalah Alkitab, Ini adalah Firman Tuhan Allah, alkitab ini berisi sekian halaman kami menjamin jumlah isi dan seluruh isi  adalah benar Firman Tuhan yang berisikan total 66 (alkitab Protestan) kitab, yaitu 27 kitab Perjanjian Baru dan 39 kitab perjanjian Lama yang berjudul "Kejadian, Keluaran ... Matius, Markus, Lukas, Yohanes dst hingga kitab Wahyu."
 Entri pendek dari WIKIPEDIA, kiriman saya 
Deuterokanonika adalah buku-buku dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, deuterokanonika berartikan "Penetapan Kanon untuk kedua kalinya", karena hanya didapati dalam versi Septuaginta, yaitu terjemahan Perjanjian Lamadalam bahasa Yunani yang diterjemahkan oleh septuaginta = tujuh puluh 70ahli Taurat Yahudi (ref. Surat dari Aristeas) untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi yang berkebudayaan Yunani dalam diaspora di Alexandria sekarang Mesir. Yesus dalam Perjanjian Baru mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama dari versi Septuaginta. Disebut dengan istilah deuterokanonika karena perbuatan Martin Luther saat dia mengeluarkan 7 kitab dari daftar kanonVulgata yang berarti digunakan oleh umum. Konsili Trente pada abad ke 16 kemudian menetapkan kanon Kitab Suci untuk kedua kalinya (deutero-kanonika)dengan jumlah kitab yang sama saat dikanonkan pertama kali pada sinoda Nikea pada abad ke 4.
Kitab-kitab yang tergabung dalam kanon ini tidak terdapat dalam kitab-kitab yang diterima oleh konsili para rabi Yahudi di Yamnia (90 M.) sekitar 300 tahun setelah Septuaginta diselesaikan akan tetapi tradisi dari kitab-kitab deuterokanonika seperti perayaan Hanukah (Pendedikasian Bait Allah di Yerusalem) dan sejarah Masada, umat Yahudi menggunakan kisah kejadian keluarga Makabe dalam Perjanjian Lama versi Septuaginta yang mengandung deuterokanonika. Agama Yahudi dan Gereja-gereja Protestan, yang mengikuti kanon Yahudi, tidak mengakui buku-buku ini. Gereja Katolik dan Ortodoksmengakui kanon yang sama.
Kitab-kitab yang tergolong Deuterokanonika adalah:

Meskipun menolak kanonisitas kitab-kitab dalam Deuterokanonika ini, pada umumnya Gereja-gereja Protestan menerimanya sebagai dokumen sejarah yang berharga untuk lebih memahami perkembangan agama Yahudi dan dasar-dasar kekristenan.
Karena dari ribuan naskah-naskah alkitab yang terdapat pada jaman kanonisasi (era susunan dari isi alkitab ditetapkan pada Sinoda Nikea th 350 sekali lagi pada sinoda Hippo th 381). Apakah kanon alkitab sebenarnya berjumlah 73 kitab (kanon gereja Katolik)  yaitu, 27 kitab Perjanjian Baru dan 46 kitab Perjanjian Lama termasuk kitab-kitab 1 dan 2 Makabe, Tobit, Sirakh, Yudith, Kebijaksanaan Solomo, Barukh dan tambahan-tambahan dalam kitab Daniel dan juga Ester atau 66 kitab versi Protestan? Dari jumlah ratusan bahkan ribuan naskah-naskah gereja yang ada dan tersebar pada masa prakanonisasi alkitab menjadi atau lahir seperti yang kita kenal sekarang. Naskah manakah adalah benar wahyu dan mana adalah novel atau pemalsuan dari ajaran Yesus. Sebab pada jaman itu terdapat banyak pemalsu ajaran untuk kepentingan pribadi yang juga menulis naskah yang serupa tapi bukan ajaran seperti dalam naskah, ajaran dan tradisi suci warisan dari para rasul. Pertanyaan yang selalu menjadi debat dan pertikaian antara yang Katolik dan non-Katolik adalah susunan mana yang benar. Gereja Katolik menetapkan 73 kitab sebagai susunan dan isi alkitab yang sah sedangkan bagi mereka yang bukan Katolik mengakui susunan dengan jumlah yang kurang dari 73 kitab yaitu 66 kitab dan mengakui 7 kitab tambahan sebagai tambahan gereja Katolik dan mendaftarkan kitab-kitab tsb sebagai aprokipa (kitab-kitab rahasia atau tersembunyi) atau deuterokanonikal dengan arti dan maksud bahwa gereja Katolik telah menambahkan kitab-kitab tsb dari susunan asli  dan mengkanonkan alkitab dua kali. Prasangka ini lahir pada era reformasi dan tidak pernah tercatat dalam sejarah sebelumnya. Karena itu Konsili Trente menyatakan dan menetapkan kanon untuk kedua kalinya dan bukan kanon yang kedua atau edisi kedua disebut deuterokaonika (deutero, kedua kali) bukan kanon kedua.  Gereja tidak menambahkan melainkan menetapkan kanon sekali lagi untuk menunjukan kesalahan bidaah Luther dan tokoh reformasi lainnya sewaktu mengurangi isi alkitab dari 73 kitab menjadi 66. Luther memilih jumlah itu karena dia mengikuti kanon Perjanjian Lama versi umat Yahudi yang dikenal dengan nama kanon Palestina yaitu Perjanjian Lama yang ditulis di abad ke 2 di kota Jamnia dalam bahasa Ibrani. Alasan pihak Yahudi adalah kenajisan alkitab yang ditulis dalam bahasa Yunani seperti versi terjemahan Septuaginta LXX yang diterjemahkan oleh 70 ahli taurat di kota Alexandria untuk digunakan oleh umat Yahudi dalam diaspora. Terjemahan versi Septuaginta terbukti digunakan oleh para rasul sewaktu mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru atau dalam khotbah mereka. Lebih dari itu Yesus sendiri menggunakan ayat-ayat versi Septuaginta untuk kutipan-Nya dalam Perjanjian Baru. Kebiasaan ini dapat dilihat dari bentuk kalimat, nama dan tatabahasa dari kutipan-kutipan dalam Perjanjian Baru yang hanya dapat ditemukan dalam versi Septuaginta. Seperti nama kitab-kitab Pentatukh Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers dan Deuteronomy adalah bahasa Yunani, hingga kini alkitab protestan masih tetap menggunakan nama-nama dalam bahasa Yunani dan bukan dalam bahasa Ibrani seperti seharusnya kanon Palestina tentu lebih menunjukan secara pasti keotentikan versi Septuaginta. Berikut adalah daftar kitab dalam perjanjian lama dengan nama dalam bahasa Yunani dan dalam bahasa Ibrani, sebaiknya Luther menamakan 5 kitab dalam Pentatukh (Torah, Taurat) dalam bahasa asli dari kanon Palestina yaitu B'resheet = Genesis, Shemot = Exodus, V'yakra = Levicticus, B'midvar = Numbers, Devarim = Deuteronomy seperti terlihat dalam daftar.
ENGLISH TRADITIONHEBREW TRANSLITERATIONTRANSLATION
GenesisB'resheetIn the Beginning
ExodusShemotNames
LeviticusV'yakraAnd He Called
NumbersB'midvarIn the Desert
DeuteronomyDevarimWords or Things
JoshuaYehoshuaYah Saves
JudgesShoftimJudges
1 SamuelShmuel AlephHeard by God - One
2 SamuelShmuel BetHeard by God - Two
1 KingsMalachim - AlephKings - One
2 KingsMalachim - BetKings - Two
IsaiahYesha'yahYah is Salvation
JeremiahYirmi'yahYah Lifts Up
EzekielY'chizki'elGod Strengthens
HoseaHosheaYah Save
JoelYo'elYah is God
AmosAmos ("Ah-mose")Burden Bearer
ObadiahOved'yahServant of Yah
JonahYonahDove
MicahMikhah (shortened of "Mikhayah")Who is Like Yah
NahumNachumComforter
HabakkukChav'kukEmbracer
ZephaniahZefan'yahYAH hides
HaggaiChagiMy Feast
ZechariahZachar'yahYah Remembers
MalachiMalakhiMy Messenger
PsalmsT'hilim ("Te-hee-leem")Praises
ProverbsMashaliMy rule/wisdom
JobYob ("Yobe")Hostility
Song of SolomonShir HashirimThe Song of Songs
RuthRut (Moabite)Chained/Welded
LamentationsAkhahHow?
EcclesiastesKehilatCommunity
Esther (Babylonian: "a star")HadasahMyrtle Tree
DanielDani'elGod is My Judge
EzraEzraHelp
NehemiahNacham'yahYah Comforts
1 ChroniclesDavari Hayamim - AlephWord of the Ages - One
2 ChroniclesDavari Hayamim - BetWord of the Ages - Two
1 MaccabeesMakabim - AlephHammers - One
2 MaccabeesMakabim - BetHammers - Two
Contoh konkrit dari kuasa Septuaginta terdapat pada tradisi umat Yahudi sendiri. Pada bulan Desember setiap tahun umat Yahudi merayakan Hanukah yaitu perayaan pendedikasian bait Allah di Yerusalem setelah penajisan yang dilakukan oleh raja Antiokhus sewaktu mengeluarkan perintah dan hukum baru wajib untuk memotong dan mengurbankan babi didalam bait Allah, puncak kenajisannya adalah dengan menegakan patung Jupiter atau mungkin (Zeus) dalam bait Allah. 1Mak1:41-64 dan 1Mak4:36-59 mencatat sejarah ini. Keluarga Yudas Makabelah yang berhasil mengalahkan raja dan kemudian mendedikasikan kembali bait Allah di Yerusalem agar menjadi suci tempat dimana Yesus sewaktu bayi dipersembahkan. Bayangkan Yesus dipersembahkan didalam bait Allah yang telah dinajiskan ... Itulah yang menjadi dilema bagi mereka yang mengakui kanon Luther, karena kanon Luther tidak mencatat sejarah pendedikasian bait Allah. Karma akibat ajaran Luther yaitu doktrin sola scriptura (hanya alkitab) menjadi nyata dimana mereka tidak dapat mengakui sejarah itu sebagai tradisi sepertinya umat Yahudi yang mengakui taurat dan talmud (tradisi)  dimana mereka tetap mengakui sejarah dan tradisi keluarga Makabe. Sebaliknya tradisi itu tidak dapat diterapkan kepada kanon versi Luther. Oleh sebab itu terlihatlah kekurangan kanon Palestina bila diakui oleh penganut sola scriptura ataupun alkitab versi Protestan yang tidak memiliki kitab Makabe. Dengan kata lain harus dapat menerima bahwa Yesus dipersembahkan dalam kenajisan bait Allah.
Entri Hanukah DI WIKIPEDIA, kiriman saya
Hanukah adalah perayaan pendedikasian kembali Bait Allah di Yerusalem setelah dinajiskan oleh raja Antiokhus agar Bait Allah dapat berfungsi kembali bagi umat Yahudi. Bagi umat Kristen terutama Katolik dan Ortodoks sejarah kitab Makabe sangat berarti karena Yesus dipersembahkan dan mengajar di Bait Allah di Yerusalem. Sejarah ini tercatat dalam Kitab 1 dan 2 Makabe. Umat Yahudi merayakan Hanukah setiap tahunnya pada bulan Desember. Hingga hari ini umat Yahudi senantiasa merayakan Hanukah bersamaan dengan masa natal umat Kristen.
Bila terdapat manusia yang mengaku atau mengira bahwa alkitab telah mengatakan atau sedikitnya mengontentikan diri maka ia harus terlebih dahulu mengakui fakta bahwa alkitab tidak pernah sekalipun berkata demikian. Tidak terdapat satu ayatpun yang berkata demikian. Karena itu mereka harus mengakui suatu ajaran atau filsafat yang kontradiktif secara internal  dan alkitab sudah memberikan peringatan akan bahaya ini Gal1:6-8 ; Kis8:26-40. Kontradiktif karena sola scriptura (hanya alkitab) bertentangan dengan ajaran, tradisi atau tafsiran yang bersumber dari luar alkitab seperti komentari, buku-buku akademis atau tafsiran seorang pendeta adalah merupakan sumber-sumber nyata dari luar alkitab itu sendiri, bahkan baptisan yang diterimanya adalah sumber dari luar alkitab. Kita bertanya apa hubungan sola scriptura dengan kanon alkitab? Jawabannya adalah sederhana, segalanya berhubungan dengan kebenaran dan sumber kebenaran tidak hanya terdapat dalam alkitab melainkan dalam gereja, tradisi suci dan kuasa gereja, karena itu gereja telah menjadi kuasa yang mengkanonkan alkitab seperti adanya. Apakah dengan itu gereja menjadi lebih berkuasa daripada alkitab? Tentu tidak karena alkitab, tradisi suci dan gereja (magisterium) adalah kuasa-kuasa yg menjadi satu sepertinya Tritunggal tiga pesona satu Allah.

Apakah arti dari Kanon Alkitab? 2Tes2:15 ; 2Tes3:6 ; 2Pet1:2 ; 2Pet ; Kis1:13-26 ; nbsp ; Kis8:26-40

Kis 8:30-31 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?" 8:31  Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.
Nyanyianku, oleh Alkitab


Kanon adalah merupakan kuasa dari dan untuk kriteria kitab-kitab yang disebut sebagai firman Allah. Kuasa apakah yang terlihat sepertinya melebihi kuasa dari firman Allah. Kuasa kanon alkitab tidak melebihi firman Allah, hanya memastikan apakah yang tertulis adalah benar-benar firman Allah. Siapakah kuasa yg memastikan isi alkitab, aku (alkitab) dengan logikaku haruslah tunduk kepada kuasa yg menentukan bentuk, isi dan jaminan bahwa aku adalah aku karena tanpa kuasa itu aku tidak akan terjelmakan seperti rupaku hari ini. Aku menyadari siapa indukku karena tanpa indukku aku tidak akan lahir. Hingga hari ini bila aku berada dalam genggaman tangan umat protestan yang senantiasa mencari indukku, karena hingga hari ini tidak satupun umat protestan yang dapat mengakatan bahwa mereka atau aku adalah kuasa kanon yang adalah induk dari kuasa dan wewenang yang melahirkan aku seperti adanya. Karena itu aku tidak lagi berani mengaku untuk mengotentikan diri tanpa kuasa kanon dengan itu aku mengakui kuasa kanon adalah induk dan kuasa yang melahirkan diriku. 1Tim3:15 ; Mat28:20 ; 1Yoh2:27 ; Dan7:14 ; Luk1:23-33 ; Mat7 ; Mat18:17-18

Kesimpulan dari penyelidikan sejarah hidup dan nenek moyangku, aku telah menemukan satu titik awal dari mana aku  berasal ... Yoh10:16 ; Mat16:18 ; Luk10:16

Karena aku telah disalah gunakan aku merasa sedih dan kecewa melihat adanya 33000 denominasi termasuk Luther, Calvin, Mormon, Adventis, Metodis, Saksi Yehovah, Baptis, Anabaptis, Pentekosta, Presbyterian, Uniterian dan 32.990 lainnya yang mengaku-ngaku dan selalu menjual namaku sebagai satu-satunya kuasa, dengan tegas dan jelas aku mengutuk Gal1:6-8 perbuatan mereka yang menggunakan diriku untuk mengajarkan selain yang terdapat dalam dan dari indukku yaitu gereja Katolik yang didirikan oleh Pemilik-NYA. Karena dengan indukku, aku dapat bersatu dengan keluargaku Tradisi Suci dan Wewenang gereja Mat16:18-19 yang telah melahirkanku untuk selalu dan tetap bersatu. Kami bersama umat kami senantiasa memberitakan, mangajarkan, melayani semua kehendak Tuhan. Setiap misa bersama keluargaku aku dibaca bersama dimandikan dalam air suci dan kemenyan suci, mereka semua bernyanyi untuk menyambut Tuhan dan menghormatiku sewaktu aku dibaca, sehingga mereka semua berdiri dan mendengarkan sabda Allah dalam diriku, mereka tidak menggunakanku untuk menghujat dan menyalibkan manusia dan umat Tuhan, mereka sangat mencintai aku sehingga mereka tidak memberanikan diri untuk semena-mena menggunakanku sebagai alat, alasan atau senjata untuk menghakimi. Mereka menciumi, membaca dan mendengarkanku dengan sujud yang sangat menyenangkan. Firman Tuhan Allah yang mereka dengarkan dari dalam diriku. Temuilah aku dalam rumahku gereja Katolik yang Kudus.

Sekian harap maklum, karena aku ingin pasti siapa yang melahirkanku, karena kuasa itu akan pasti mengetahui bagaimana cara menafsir dan mengajarkan isi dalam diriku, terima kasih.

salam,

Aku alkitab yang rindu akan kebenaran sepenuhnya. 

Berdoalah agar anda mendapatkan kebenaran sepenuhnya dan agar anda tidak termasuk dalam golongan 33000 yang merasa bangga, dan percaya sola scriptura yang telah terbukti salah dan senaniasa mencari-cari induknya.Gal1:6-8

Gal 1:6-8 Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, 7 yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu terkutuklah dia.


From:http://www.ekaristi.org/dokumen/dokumen.php?subaction=showfull&id=1140836587&archive=&start_from=&ucat=1&

Apakah Katolik Sudah Selamat?

Jaminan Keselamatan? 

Ada beberapa topik yang lebih membingungkan mengenai keselamatan. Lebih-lebih pertanyaan standard yang ditanyakan oleh Fundamentalis: “Apakah kamu telah diselamatkan?” Pertanyaan tersebut juga bermaksud: ”Apakah kamu berharap bahwa kamu memiliki jaminan keselamatan?” Evangelis dan Fundamentalis berpikir bahwa mereka memiliki jaminan absolut.

Yang harus dilakukan hanyalah “menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadi,” dan selesai. Mereka mungkin menjalani hidup yang patut diteladani setelahnya, tetapi hidup baik bukanlah hal yang krusial dan pastinya tidak mempengaruhi keselamatan mereka.

Kenneth E. Hagin, seorang evangelis televisi pantecostal yang terkenal dari “Word Faith” sayap dari protestanism, menyatakan bahwa jaminan keselamatan ini datang dengan cara “hidup baru” : “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yoh3:3). Meskipun banyak dari teology Hagin yang dianggap aneh dalam lingkup protestan, penjelasannya mengenai lahir baru dapat didukung oleh jutaan evangelis protestan. Dalam bukletnya, The New Birth (Kelahiran Baru), Hagin menulis, “ Kelahiran baru adalah keharusan untuk diselamatkan. Melalui kelahiran baru, kamu tiba pada hubungan yang benar dengan Allah”

Menurut Hagin, ada beberapa hal yang bukan merupakan lahir baru. “Lahir baru bukanlah: sakramen krisma, keanggotaan gereja, baptisan air, menerima sakramen, melakukan tugas-tugas religius, menerima Kekristenan secara intelektuil, keorthodokan iman, pergi ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, bermoral, beradab, melakukan hal-hal yang baik, melakukan yang terbaik, ataupun hal-hal lain yang dipercaya dapat menyelamatkan.” Mereka yang menerima kelahiran baru “melakukan satu hal yang perlu: menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi dengan cara bertobat dan berbalik kepada Allah dengan sepenuh hati layaknya anak kecil.” Hanya diperlukan satu tindakan berdasarkan kehendak, ia menjelaskan. Tapi benarkah itu? Apakah Alkitab mendukung konsep ini?

Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan akhir seseorang tergantung pada keadaan dari jiwanya pada saat kematian. Sebagaimana Yesus sendiri katakan pada kita,”Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Mat24:13 ; Mat25:31-46). Seseorang yang meninggal dalam keadaan bersahabat dengan Allah (dalam keadaan berahmat) akan pergi ke surga. Seseorang yang meninggal dalam keadaan permusuhan dan pemberontakan terhadap Allah (dalam keadaan dosa berat) akan pergi ke neraka.

Bagi beberapa fundamentalis dan evangelis, itu tidak membuat perbedaan – sejauh keselamatan yang menjadi perhatian – bagaimana kamu hidup atau mengakhiri hidup kamu. Kamu dapat menuju podium altar, mengumumkan bahwa kamu telah menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi kamu, dan selama anada benar-benar mempercayainya, kamu telah selamat. Sejak saat itu tidak ada lagi yang dapat kamu lakukan, tidak ada satu dosa pun yang dapat kamu lakukan, tidak perduli bagaimana pun mengerikannya, yang dapat membuat kamu kehilangan keselamatan kamu. Kamu tidak dapat melepaskan keselamatan kamu, walaupun kamu menginginkannya.

Tidakkah ini terdengar terlalu indah untuk terjadi? Ya, akan tetapi, ini adalah sesuatu yang diklaim oleh banyak protestan. Lihatlah apa yang dikatakan Wilson Ewin, pengarang buklet “There is Therefore Now No Condemnation (Karenanya sekarang tidak ada hukuman)”. Dia menulis bahwa “seseorang yang menempatkan imannya dalam Tuhan Yesus Kristus dan darahnya mengalir di Kalvary adalah selamanya aman. Dia tidak akan pernah kehilangan keselamatannya. Tidak ada pelanggaran pribadi dari hukum Allah ataupun hukum manusia ataupu perintah Allah yang dapat membatalkan status tersebut.”

“Untuk mengingkari jaminan keselamatan berarti mengingkari penebusan sempurna Kristus,” bantah Ewin, dan ini adalah sesuatu yang dikatakannya hanya karena dia bingung antara penebusan yang dilakukan Kristus untuk kita secara objektif dengan penghargaan pribadi kita atas penebusan itu. Sebenarnya dalam satu arti, kita semua telah ditebus oleh kematian Kristus di kayu salib – Kristen, Yahudi, Muslim, bahkan penganut animisme di hutan yang gelap (1Tim2:6 ; 1Tim4:10 ; 1Yoh2:2) – tetapi penghargaan pribadi kita atas apa yang disiapkan Kristus adalah tergantung atas respon kita.

Yang pasti, Kristus memang mati di kayu salib sekali untuk selamanya dan telah memasuki tempat suci di surga untuk hadir dihadapan Allah mewakili kita. Kristus telah secara berlimpah menyiapkan keselamatan kita, tapi itu tidak berarti bahwa tidak ada proses yang melibatkan kita secara pribadi. Jelaslah, ada (proses), atau (kalau tidak) kita akan diselamatkan dan dibenarkan dari segala keabadian, dengan tanpa perlu bertobat atau memiliki iman atau hal-hal lainnya. Kita telah lahir “selamat”, tanpa perlu dilahirkan lagi. Karena kita tidak (lahir baru), karena adalah perlu untuk mereka yang mendengar Firman untuk bertobat dan menjaganya, ada waktunya dimana kita datang untuk berdamai dengan Allah. Dan karenanya, kemudian kita, seperti halnya Adam dan Hawa, dapat menjadi tidak berdamai dengan Allah dan, seperti anak yang hilang, perlu untuk kembali dan berdamai lagi dengan Allah, setelah meninggalkan keluarganya.


Kamu Tidak Dapat Kehilangan Surga? 

Ewin mengatakan bahwa “tidak ada tindakan yang keliru ataupun perbuatan penuh dosa yang dapat mempengaruhi keselamatan seorang yang percaya. Pendosa tidak dapat melakukan apapun sebagai jasa atas rahmat Allah dan begitu juga sebaliknya, ia tidak dapat melakukan apapun sehingga kehilangan rahmat Allah. Benar, perbuatan dosa selalu merenggangkan persahabatan seseorang dengan Kristus, membatasi kontribusinya atas pekerjaan Allah dan dapat menyebabkan hukuman dari Roh Kudus.”

Satu masalah dalam argumen ini adalah bahwa ini bukanlah mekanisme yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Jika seseorang memberi kita sesuatu sebagai rahmat –sebagai hadiah- dan walaupun kita tidak melakukan apaapun yang layak atasnya (walaupun biasanya pemberian diberikan karena kita telah menyenagkan seseorang yang memberikan hadiah), tidak mungkin (diberikan) jika tindakan kita tidak sesuai dengan apakah kita dapat menerima hadiah tsb atau tidak. Kita dapat kehilangannya dengan berbagai cara. Kita dapat salah meletakannya, menghancurkannya atau memberikannya kepada orang lain, mengembalikannya ke toko. Kita bahkan harus menyerahkan sesuatu yang telah diberikan karena di waktu mendatang tidak menyenangkan orang yang memberikannya - seperti ketika seseorang ditunjuk untuk menduduki posisi khusus tetapi kemudian diturunkan dari posisi tersebut karena kesalahan management.

Argumen tidak lebih baik ketika seseorang berbalik pada Alkitab, sebagaimana seseorang dapat menemukan Adam dan Hawa, yang menerima rahmat Allah dengan sikap cara dan keadaan yg menghilangkan karunia bagaikan siapa saja dijaman ini, lebih pastinya telah kehilangannya – dan kehilangan rahmat tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk kita juga. (bdk Rom11:17-24). Ketika ide bahwa apa yang diterima tanpa jasa tidak dapat hilang karena perbuatan menjadi semacam daya tarik yang indah untuk beberapa orang, itu tidak dapat dipertanggungjawabkan ketika dibandingkan dengan hal yang sebenarnya – entah itu dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam Alkitab.

Mengenai masalah apakah seorang Kristen memiliki jaminan keselamatan “absolut”, tanpa perduli tingkah laku mereka, pertimbangkan peringatan yang diberikan Paulus: “Perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Rom11:22 ; Ibr10:26-29 ; 2Pet2:20-21.


Dapatkah Kamu Mengetahui?


Berhubungan dengan masalah apakah seseorang dapat kehilangan keselamatannya adalah pertanyaan apakah seseorang dapat tahu secara yakin sepenuhnya mengenai keadaan keselamatannya. Walaupun jika seseorang dapat kehilangan keselamatannya, seseorang tetap tidak dapat yakin apakah ia pernah dalam keaadaan diselamatkan. Hal yang sama, walaupun jika seseorang dapat yakin bahwa sekarang dalam keaadaan diselamatkan, ia dapat saja kehilangan keselamatannya kelak. “Pengetahuan” atas keselamatan adalah pertanyaan yang berbeda dengan “kemampuuan untuk kehilangan” keselamatan.

Dari pendengar radio Bible Class dapat diperoleh buklet yang berjudul ‘Can Anyone Know for Sure? (Adakah seseorang dapat begitu yakin?)’ Pengarangnya yang anonim mengatakan “Tuhan Yesus menginginkan pengikutnya untuk sangat yakin akan keselamatan mereka sehingga mereka akan lebih gembira dalam penantian akan surga daripada dalam kemenangan duniawi. “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” (1Yoh5:13)

Saat Alkitab membicarakan mengenai kemampuan kita untuk mengetahui bahwa kita berada dalam keadaan rahmat adalah penting dan harus dianggap serius. Tetapi kita tidak dijanjikan akan dilidungi dari penipuan diri dalam masalah ini. Walaupun pengarang ‘Can Anyone Really Know for Sure? (Adakah seseorang dapat begitu yakin?)’ mengakui bahwa ada keyakinan keliru: “Alkitab Perjanjian Baru mengajarkan bahwa jaminan asli adalah mungkin dan menggiurkan, tetapi juga diingatkan bahwa kita dapat ditipu melalui jaminan keliru. Yesus berabda:’Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.’(Mat7:21)”

Kadangkala Fundamentalis menggambarkan Katolik seolah-olah mereka setiap saat harus berada dalam keadaan ketakutan kehilangan keselamatannya karena Katolik mengajarkan bahwa adalah mungkin kehilangan keselamatan akibat dosa berat. Fundamentalis kemudian berpegang bahwa daripada hidup dalam ketakutan, mereka dapat tenang, yakin mengetahui bahwa mereka akan, faktanya, diselamatkan, dan bahwa tidak ada yang dapat mengubah fakta ini.

Tetapi gambaran ini keliru. Katolik tidak hidup dalam ketakutan abadi mengkhawatirkan keselamatan. Benar, keselamatan dapat hilang akibat dosa berat, tetapi dosa yang demikian adalah mengenai hal-hal yang serius, dan bukan berarti bahwa seorang yang Kristen akan melakukannya secara mendadak, tanpa pemikiran yang hati-hati dan dengan rela. Dan Gereja Katolik juga tidak mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat memiliki jaminan keselamatan. Ini benar baik keselamata saat ini maupun yang akan datang.

Seseorang dapat yakin akan keselamatannya saat ini. Ini adalah alasan utama mengapa Allah memberikan Sakramen kepada kita – untuk menyediakan jaminan nyata bahwa Ia secara nyata memberikan rahmatNya kepada kita. Dan seseorang dapat yakin bahwa ia tidak menyia-nyiakan rahmat tersebut hanya dengan memeriksa diri dan introspeksi apakah pernah melakukan dosa berat. Bahkan, ujian Yohanes yang mengawali suratnya membantu kita mengetahui apakah kita berada dalam keadaan rahmat, pada intinya, ujian apakah kita berada dalam dosa besar. Contohnya,” Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1Yoh3:10), “Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh4:20), “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat” (1Yoh5:3)

Seperti halnya, dengan melihat arah hidup seseorang yang dalam keadaan rahmat dan keputusan hatinya untuk tetap mengikuti Allah, seseorang juga mendapat jaminan akan keselamatannya kelak. Adalah Paulus yang mengatakannya ketika menulis untuk umat Filipi dan mengatakan,” Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Flp1:6). Ini bukanlah janji untuk semua umat Kristen, atau bahkan bukanlah hal penting bagi gereja di Filipi, tetapi keyakinan bahwa umat Kristen di Filipi secara umum dapat melakukannya. Dasarnya adalah pekerjaan rohani mereka hingga saat itu, dan Paulus merasa perlu untuk menjelaskan kepada mereka bahwa keyakinannya atas mereka memiliki dasar. Karenanya ia berkata, dengan segera, “Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.” (Flp1:7). Fakta bahwa umat Filipi bekerja secara rohani dengan membantu Paulus sewaktu masa tahanan dan jemaat menunjukan bahwa hati mereka ada pada Allah dan bahwa mereka dapat diharapkan, minimal secara umum, akan tekun dan tetap tinggal dalam Allah.

Ada banyak laki-laki dan perempuan kudus Kristen yang karakternya ditandai oleh kegembiraan dan kedamaian rohani yang dalam. Individu semacam ini dapat menantikan dengan yakin pesta mereka di surga.

Individu semacam ini adalah Paulus, yang menulis pada akhir hidupnya,”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2Tim4:7-8). Tetapi sebelumnya, pada masa hidupnya, Paulus tidak menyatakan jaminan yang tidak dapat salah, entah itu atas pembenarannya saat itu ataupun atas rahmat atas dirinya di masa yang akan datang. Mengenai keadaannya saat itu, ia menulis,” Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.” (1Kor4:4). Mengenai sisa hidupnya, Paulus dengan jujur mengakui bahwa ia pun dapat jatuh: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1Kor9:27). Tentu saja, bagi rohaniwan besar semacam Paulus, adalah tidak terduga dan diluar karakter untuk jatuh dari rahmat Allah. Akan tetapi, ia menunjukan bahwa, bagaimanapun yakinnya ia akan keselamatan dirinya, ia dapat merasa yakin, walaupun ia tidak dapat yakin sepenuhnya tanpa salah akan keadaannya saat itu ataupun arah hidupnya dimasa yang akan datang.

Hal yang sama adalah berlaku bagi kita. Kita dapat, jika hidup kita menunjukan ketekenunan dan buah rohani, memiliki tidak hanya keyakinan mengenai keadaan rahmat kita saat ini tetapi juga ketekunan kita di masa yang akan datang di dalam Allah. Tetapi kita belum dapat memiliki kepastian yang tidak dapat salah akan keselamatan kita sendiri, seperti yang diakui banyak protestan. Ada kemungkinan menipu diri sendiri (bdk. Mat7:22-23). Sebagaimana Yeremia menyatakannya,” Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yer17:9). Ada juga kemungkinan jatuh dari keadaan rahmat akibat dosa berat, dan bahkan jatuh dari iman sepenuhnya, sebagaimana yang dikatakan Yesus kepada kita, ada yang “percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.” (Luk8:13). Dengan terang akan peringatan dan nasehat ini, kita harus mengerti pernyataan positif Alkitab mengenai kemampuan kita untuk mengetahui dan memiliki keyakinan akan keselamatan kita. Jaminan mungkin kita miliki tetapi kepastian tidak kita miliki.

Sebagai contoh, Flp2:12 mengatakan: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Ini bukanlah pernyataan akan jaminan yang penuh keyakinan. Keselamatan kita adalah sesuatu yang harus selalu diusahakan.


Apa Yang Harus Dikatakan


“Apakah kamu sudah selamat?” tanya Fundamentalis. Seorang Katolik seharusnya menjawab: “Sebagaimana dikatakan Alkitab saya telah diselamatkan (Rom8:24 ; Ef2:5-8), tetapi saya juga sedang diselamatkan (2Kor2:15) dan saya harap saya akan diselamatkan (Rom5:9-10 ; 1Kor3:12-15). Sebagaimana rasul Paulus, saya sedang mengerjakan keselamatan saya dengan takut dan gentar (Flp2:12), dengan harapan dan keyakinan akan janji Kristus (Rom5:2 ; 2Tim2:11-13)”


NIHIL OBSTAT: Aku telah menyimpulkan bahwa materi yang dipaparkan dalam tulisan ini bebas dari kesalahan doktrinal dan moral.
Bernadeane Carr, STL, Censor Librorum, 10 Augustus 2004.

IMPRIMATUR: Berdasarkan 1983 CIC 827 ijin untuk diterbitkan telah diberikan.
+Robert H. Brom, Uskup San Diego, 10 Augustus 2004

Terjemahan oleh Ekaristi dari Catholic.com

from:http://www.ekaristi.org/dokumen/dokumen.php?subaction=showfull&id=1177447963&archive=&start_from=&ucat=1&

Tata Gerak Liturgi

Apa makna Tata Gerak dalam Liturgi?
Tata Gerak dalam liturgi mengungkapkan Penghayatan Batin kita dan partisipasi kita dalam Perayaan Ekaristi itu.
SIMG_5079ikap Tubuh yang seragam menandakan kesatuan Jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Suci. Sebab Sikap Tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap Batin yang sama pula.
Tata Gerak atau Sikap Tubuh seluruh Jemaat dan para pelayannya juga menjadi bagian terpenting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang Berdoa.
Apabila dilakukan dengan baik, maka: 
  1. Seluruh Perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun;
  2. Makna aneka bagian Perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan
  3. Partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan (PUMR 42)
Tata Gerak 

1.Perarakan
Perarakan menandakan suatu kemeriahan. Maka, hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun dan diiringi dengan nyanyian yang serasi (PUMR 44). Bahkan apabila dirasa perlu, bisa juga dengan tarian atau ekspresi budaya lainnya.
Perarakan dilakukan ketika:
Perarakan Imam bersama diakon dan para pelayan menuju Altar dan menuju Sakristi Perarakan Diakon yang membawa Kitab Injil sebelum pemakluman Injil. Perarakan umat beriman yang mengantar Bahan Persembahan dan maju untuk Komuni.

2.Tanda Salib
Merupakan tanda kemenangan Kristus.
Cara melakukannya: Dalam nama Bapa (dahi) dan putra (dada) dan roh kudus (pangkal lengan kiri), Amin (pangkal lengan kanan).
Tanda salib dilakukan ketika: 
  • Memasuki Gereja sambil menandai diri dengan air suci yang  ada di samping pintu masuk Gereja sebagai tanda peringatan pembaptisan yang telah kita terima.
  • Mengawali dan mengakhiri Perayaan Ekaristi.
  • Menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai Pernyataan Tobat. Tanda tersebut mengungkapkan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaan pada janji baptis.
  • Memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada untuk mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan dan hati diresapi oleh sabda Tuhan.
  • Menerima berkat pengutusan pada bagian penutup
3.Berdiri
  • Berdiri merupakan ungkapan kesiap-sedian, Penghormatan dan perhatian pada kehadiran Tuhan.
  • Sikap tubuh ini mengungkapkan kegembiraan Jemaat. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus. Berdiri menyatakan keyakinan perasaan yang utuh, jiwa yang siaga di hadapan Allah, siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi.
Berdiri dilakukan ketika:
  • Menyambut iman dan para pelayan  yang bergerak menuju ruang Altar. Sikap ini menunjukkan penghormatan kepada Allah yang datang dan hadir di tengah-tengah umat.
  • Dari awal hingga Doa pembuka, kita mengambil sikap berdiri.
  • Pemakluman Injil sebagai tanda hormat pada Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mulia dan yang hendak memaklumkan sabda-Nya.
  • Mengucapkan Syahadat untuk memperbaharui pengakuan iman sebagai tanda kesediaan menjadi saksi iman.
  • Menyampaikan doa umat, sebagai tanda hormat kepada Allah yang setia mendengarkan dan mengabulkan doa-doa umat.
  • Memulai Doa Syukur Agung (Prefasi) hingga kudus sebagai tanda hormat dan syukur kepada Allah.
  • Mengucapkan/menyanyikan lagu Bapa Kami sebagai tanda pujian dan permohonan.
  • Iman menggucapkan Doa sesudah Komuni sebagai tanda syukur.

4. Berlutut
Berlutut merupakan sikap doa yang mengungkapkan kerendahan hati seseorang yang ingin memohon kepada Tuhan atau bersembah sujud kepada-Nya.
Berlutut dilakukan ketika:
Oleh umat ketika berdoa pribadi pada saat mengawali dan mengakhiri Ekaristi saat konsekrasi, serta sebelum dan sesudah komuni sebagai sikap sembah sujud untuk hormat kepada Allah.
Imam mendoakan kisah institusi (Kisah Perjamuan Tuhan) dalam Doa Syukur Agung, termasuk di dalamnya kata-kata konsekrasi, sebagai tanda hormat dan pujian oleh umat dihadapan Sakramen Mahakudus.
Oleh Imam dan umat untuk merenungkan wafat Tuhan Yesus pada saat pembacaan Kisah sengsara pada hari raya Jum’at Agung.
Ketika kita melewati tabernakel (Tempat Sakramen Mahakudus yang menjadi simbol kehadiran Kristus).
.
5. Duduk
  • Duduk itu mengungkapkan kesiapan umat untuk mendengarkan sabda Tuhan, entah melalui bacaan kita suci ataupun Homili sang Pastor.
  • Duduk juga mengungkapkan sikap tenang untuk menanti, mendengarkan dan menghormati Tuhan.
  • Duduk yang liturgis berarti duduk dengan kaki sejajar.
Kita duduk, ketika:
  • Selama bacaan-bacaan sebelum Injil.
  • Saat Mazmur tanggapan.
  • Selama Homili
  • Selama persiapan persembahan.
  • Selama saat hening, sesudah menerima Komuni.

6. Membungkukkan Badan
  • Membungkukkan badan, hendak menyampaikan penghormatan kepada Tuhan, sekaligus mengungkapkan rasa ketidak layakan kita.
  • Letak perbedaan berlutut, membungkukkan badan, menunduk, hanya pada bobotnya saja.
Kita membungkukkan badan ketika;
  • Menghormati Altar.
  • Dalam Doa Syahadat, ketika mengucapkan kata-kata…”Ia dikandung dari Roh Kudus…dan Ia menjadi manusia”.

7. Sikap Tubuh lain adalah Gerakan Tangan
Gerakan Tangan sebenarnya mengungkapkan keseluruhan diri seseorang. Tangan terkatup mengungkapkan sikap penghormatan dan sembah sujud kepada Tuhan.
Panca Indera
Dalam merayakan Ekaristi, seluruh indera kita melambangkan keterbukaan kita pada sang pencipta dan penyelamat kita yakni Tuhan Allah yang mengasihani dan memberikan hidup-Nya kepada kita.
  • Mata kita memampukan kita melihat kemuliaan Allah; dekorasi, kasula
  • Telinga mendengarkan kita pada Tuhan yang sedang bersabda, nyanyian
  • Tuhan menyentuh diri kita lewat Komuni suci yang kita terima.
  • Indera merasakan, memberikan kita pengalman merasakan Tubuh Kristus pada saat Komuni.
  • Indera penciuman, mencium bau wangi-wangian asap dalam ukupan pada Perayaan Ekaristi melambangkan keharuman nama Allah sendiri yang menyelamatkan
from: http://santopauluspku.wordpress.com/2013/05/22/tata-gerak-atau-sikap-tubuh-umat-dalam-perayaan-ekaristi/